• Selamat Datang Di Semester Lima

    Gimana kabar gaes? Udah lama saya ngak blogging. Nulis sih tetap tapi bloggingnya yang kesendat mulu, ada aja kendala buat mostingnya. Malas keluar rumah beli kartu paketan internet. Ya... maklum, di tempat saya ini semuanya serba jauh kalau mau butuh apa-apa, Wi-Fi ngak ada. Jangankan Wi-Fi, listrik aja ngak ada. Hhaha

    Beda kalau ada di Malang, ada Wi-Fi gratis di kampus ya rajin bloggingnya. Kalau udah libur gini (pulang kampung) susah mau blogging, ngak ada Wi-Fi. Ya nyabar dulu aja buat rajin blogingnya. Sebenarnya postingan ini udah minggu lalu saya selesai nulisnya. Ya, sekarang lagi sempat aja mosting mumpung ada teman baik saya waktu SMA dulu punya paketan internet.

    Oya, saya hampir lupa mau ngucapin selamat datang di semester lima buat adik-adik yang ngambil jurusan Ilmu Komunikasi khususnya semester empat, bentar lagi akan memasuki semester lima. Kalian sehat-sehat kan? Gimana, udah siap ngak tuh jadi mahasiswa semester lima? Apalagi di semester lima ini kalian akan menentukan besik dari tiga konsentrasi yang ada di jurusan Ilmu Komunikasi.

    Semester lima. Ada yang bisa kasih kata yang tepat untuk dua kata ini? Selama berselancar di dunia maya, kepo-kepoin sosial media teman-teman seangkatan. Mereka pasti nulis kayak gini: “Ya Tuhan, baru seminggu libur rasa pengen cepet masuk kuliah lagi, ngak sabar jadi mahasiswa smester lima, dan mungkin masih banyak lagi tulisan-tulisan yang lain.

    Bukan tanpa alasan kegalauan mahasiswa semester lima semakin naik dibanding semester sebelumnya. Semester lima, dimana kita bertemu tugas besar.

    Di semester lima ini, mahasiswa pasti disuguhkan dengan tugas-tugas besar yang selalu dipantau setiap minggu oleh dosen. Apalagi ngambil konsentrasi jurnalistik, ya siap-siaplah hadapin susah-senangnya jadi mahasiswa jurnalistik karena di konsentrasi jurnalisrik ini paling susah dari tiga konsentrasi yang ada di jurusan Ilmu Komunikasi, dan yang pasti tidak pernah lepas dari penulisan berita, analisis berita, dan yang lebih parahnya lagi setiap hari kalian harus mencari/menulis berita selingkup kampus untuk dimuat di LPM – Papyrus (Media Kampus).

    Setiap minggu tugas pasti selalu di update oleh dosen, sehingga kalia juga ekstra belajar untuk mencapai target penyelesaian tugas besar. Bukan satu atau dua mata kuliah yang punya tugas besar, tapi bisa lebih dari tiga tugas besar yang kalian dapat di semester ini. Kebetulan saya sudah melewati yang namanya smester lima dan mengambil delapan mata kuliah. Lima dari delapan ada tugas besar. Banyak? Iya banget, kalau kegiatan menangis bisa menghasilkan uang, mungkin sudah jadi milyader kali ya, hahaha. Jangan terlalu banyak berpikir, mulailah bertindak. Tugas besar bukan berarti hanya kalian yang mengerjakannya, bagi-bagi tugas ke teman satu kelompok kalian. You’ll never walk alone guys, itulah guna berkelompok dalam mengerjakan tugas. Selain itu, jangan lupa untuk menargetkan deadline pengerjaan tugas. Tugas besar akan semakin membesar kalau kita selalu menunda pengerjaannya. Pada akhirnya, kita akan buru-buru mengerjakan tugas, tidur cuma tiga jam sehari, mata panda, dan yang lebih buruk lagi tugas besar kita menjadi tidak berbobot dan terkesan biasa-biasa saja.

    Kalau sudah masuk semester lima, berarti sudah harus mempersiapkan ‘bekal’ menuju semester yang akan datang.

    Sudah menjadi mahasiswa semester lima, berarti tinggal satu tahun lagi menyandang status ‘mahasiswa’ dan sudah harus memikirkan planning setelah lulus kuliah. Selama kuliah ini, pernahkah kalian membuat planning untuk lima atau sepuluh tahun kedepan? Selain memikirkan tugas, kalian pasti pernah terlintas membayangkan seperti apa setelah lulus kuliah. Kalian pasti punya impian dan target yang ingin di capai saat masuk ke dunia kerja. Mungkin ada yang berkeinginan untuk bekerja di media massa menjadi wartawan, presenter, penulis FTV, atau melanjutkan kuliah S2. Sah-sah saja bila kita memiliki impian dan target pencapaian yang banyak, tapi jangan lupa untuk membuat perencanaannya. Ibarat kita ingin membuat kue, kita tahu bahannya apa saja tetapi kita tidak tahu bagaimana langkah-langkah pembuatannya. Alhasil, impian hanya sebatas impian. Impian harus ditulis dan ditempel di depan meja belajar supaya kita tahu apa yang sedang kita kejar dan yang kita perjuangkan. Dengan demikian, kegalauan yang melanda kita bisa di kurangi secara perlahan.

    Jadi, sudah siap menyandang status mahasiswa semester lima?

    Sumber Gambar: Google
  • Rasa Yang Pernah Ada

    Wadah angan-angan semakin terisi penuh, kini ketinggian mereka seperti tak terengkuh. Di dalamnya, ada kita dengan indah cerita yang tak mungkin dijadikan nyata. Di dalamnya, ada aku yang begitu bahagia. Di dalamnya, ada kamu yang sedang jatuh cinta. Namun, mimpi memang tidak bisa bertahan terlalu lama. Karena aku perlahan menyadari bahwa cerita kita memang tak akan pernah ada. Semesta sedikit demi sedikit mengirimkan hujan kenyataan, agar aku bisa berhenti menciptakan khayalan di luar jangkauan.

    Siapa sebenarnya yang berperan sebagai tokoh antagonis hingga tak jarang aku menangis? Aku sendirikah yang terlalu jahat memberi seutuhnya hati untuk rela disakiti? Atau dia yang tak mampu menjaga hatiku dengan hati-hati sampai retak berkeping seperti ini? Menjaga? Ah aku salah lagi.

    Dia memang tak pernah benar-benar mau memiliki. Ekspektasiku saja yang terlalu malas menginjak bumi, ia terlalu tinggi. Cerita-cerita kita yang kukira akan sempurna, ternyata tak berakhir bahagia. Yang kutahu tentang masa depan itu kamu, tapi malah kamu yang menyuruhku untuk tetap berpijak saja pada masa lalu dan berhenti di situ.

    Yang kutahu tentang perjuangan itu kita, tapi ternyata hanya aku yang berusaha. Bagaimana bisa? Bagaimana caranya membuatmu melihat apa yang kulihat sementara kita sama-sama telah buta akan tujuan yang berbeda?

    Hingga akhirnya hati kecil membujuk untuk aku segera merelakan. Bukan suatu hal yang sulit, hanya mungkin butuh waktu. Butuh waktu yang tak sebentar bagi hati untuk merapikan serpihan demi serpihan. Butuh waktu yang tak sebentar bagi diri untuk menerbangkan segenggam kemungkinan-kemungkinan. Butuh waktu yang tak sebentar untuk menyadari, bahwa satu-satunya jalan adalah dengan membiarkanmu pergi. Ialah aku, dengan tanpa keberanian untuk mengaku. Ialah aku, yang menyerah sebelum benar-benar memperjuangkan.

    Kau tahu, aku seperti mengejar kereta yang tak pernah kutahu akan tiba. Aku seperti memperjuangkan yang belum mau diperjuangkan karena buatnya aku pun belum pantas diistimewakan. Mungkin lain kali bukan objeknya yang harus kuperjuangkan, tapi kesetaraan perasaan.

    Awal yang menggebu, ternyata meninggalkan sisa-sisa rasa yang dinilai tak bermakna seperti abu. Tapi aku ingin menerbangkannya, mungkin agar bisa sedikit saja kau merasakannya. Meski aku tahu, untuk merasa saja takkan bisa mengubah apa-apa. Pun kepemilikan hatimu yang telah dipegang oleh dia. Aku berserah pada Tuhan Sang penentu arah. Aku melambaikan tangan pada kamu yang bersiap masuk dalam kolom masa lalu.

    Nyatanya tidak perlu ada perjuangan. Sebab hatimu telah ada yang memenangkan. Sebagai pihak yang mengalah dan sudah mengaku kalah, kemudian aku mengubah arah. Meski hati sepenuhnya masih ingin menujumu, namun kenyataan menyadarkan bahwa rasa kita tak bisa saling temu.

    Kukantongi bahagiamu dengannya, supaya aku akan tetap ingat bahwa aku boleh berada pada kondisi yang sama. Karena seharusnya tidak hanya hari-harimu yang indahnya tanpa jeda, tapi milikku juga.

    Sumber Gambar: Google
  • Firasat

    Sebelum peristiwa manis itu dimulai sepekan lalu, aku tahu hari itu akan cepat berlalu. Maka aku merekam segalanya dalam ingatan. Sebut saja ini firasat, sebelum perpisahan bergerak lebih cepat.

    Senyummu itu sumber kekagumanku, ratusan hari aku duduk di sebelahmu dan menikmati hal yang satu itu. Lagi-lagi tanpa kamu tahu. Bahumu adalah pelabuhan tempat kepalaku selalu ingin terjatuh tak sengaja. Dan hari itu aku melakukannya. Semesta mengirimkan lagi bahasa-bahasa yang tak kumengerti, seperti kau ingin terculik pergi.

    Semula, semua berjalan lebih dari baik-baik saja. Senyummu dari hati, senyumku lebih gembira lagi. Namun, bahagia yang berlebihan selalu punya harganya sendiri. Barangkali dengan kepergianmu, baru bisa kulunasi.

    Kamu dekat tapi terasa lebih jauh dari yang terlihat. Kamu ada tapi terasa lebih tiada dari kenyataannya. Ah, bahkan perasaanku saja sudah bisa mengira, bahagia di dekatmu seperti ini bukan untuk selamanya. Semesta semestinya tahu, menoleh pada yang selain kamu bukan keahlianku. Semesta sudah pasti tahu, memang langkahku tak seharusnya mengarah padamu.

    Aku tak selalu mengerti semesta, dengan segala permainannya. Aku lebih tak mengerti kamu, dengan perhatian sementaranya. Hingga akhirnya aku semakin tak mengerti tentang kebersamaan yang belum tergapai, namun sudah harus selesai. Kamu hadir tiba-tiba, tanpa aba-aba. Kemudian pergi tanpa mengucap apa-apa. Paling tidak, beri aku pemberitahuan, supaya aku tahu hatimu telah pindah haluan. Paling tidak, beri aku tamparan, supaya aku tahu bahwa kita sudah tak lagi miliki harapan.

    Hari ini adalah saksi dari ratusan hari perjalanan hati menginginimu jadi penghuni. Ingin rasanya meleraikan pikirku tentang ketidakmungkinan yang mengada-ada dalam kepala. Tapi korneaku bekerja terlalu baik, mata menangkap kamu dan dia bercengkrama dengan mesra. Tangan yang terbiasa mengayun bermain melingkar di bahuku, malam ini kau gunakan memainkan tangannya. Sakitku lebih perih dari serangkai aksara ini. Aku tidak apa-apa dengan retaknya hati yang terlalu tiba-tiba. Tapi mengapa harus lahir peristiwa sepekan lalu yang begitu manis? Itukah tujuanmu menyakitiku dengan manis?

    Ingin rasanya lari sejauh mungkin, menghindar dari pemandangan di depanku. Dan terjun dalam lautan airmata sebebas-bebasnya. Selepas-lepasnya.

    Apa ini yang seharusnya terjadi padaku? Yang seperti ini? Mencintai tak tahu berhenti, tapi selalu ditinggal ketika rasanya hampir memiliki. Menjadi yang pintar mengobati pun percuma, jika aku kelak gagal di cinta yang lain lagi. Tapi aku tak mau yang lain. Sebab yang lain tentu bukan kamu.

    Apa ini maksud daripada semesta?

    Memberikan semacam firasat, supaya aku mampu melepasmu yang bukan lagi untuk sesaat? Apa ini alasan di balik segala kedekatan? Supaya aku menyadari bahwa yang sudah lama akrab, belum tentu bagian dari sebuah jawab?

    Bahagiakah kamu bersamanya? Sebab, sepertinya sudah tak perlu lagi kuminta, agar kamu mendapat apa yang sudah kamu punya. Benar atau pun tidak, mulailah jalani hari-hari barumu dengannya. Biar hati kecil mulai terbiasa untuk melepas dengan rela.

    Biar tak perlu kucari-cari apa yang telah tiada.

    Sumber Gambar: Google
  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    NOMASDEDO Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan Redesign by Mung Bisnis