• Cinta Bukan Tentang Kesempurnaan, Tetapi Tentang Bisa Menerima Keadaan Masing-Masing Apa Adanya

    Cintai seseorang dengan semua yang ada pada dirinya, bukan hanya karena dia terlihat sempurna dan memiliki segalanya. Karena cinta bukan tentang kesempurnaan dan segala hal yang dimiliki oleh orang yang cintai. Tetapi cinta itu adalah tentang menerima keadaan apapun yang dimiliki oleh orang yang kamu cintai.
    Entah itu kekuranganya dan keburukannya, karena steiap orang itu memiliki kekurangan dan keburukan masing-masing. Jadi tidak mungkin kamu hanya mencintai kehebatannya saja, tidak akan dikatakan cinta jika kamua hanya mencintai kelebihannya saja.

    Tiada Manusia Yang Sempurna, Karena Kesempurnaan Adalah Kemusthailan Yang Nyata

    Kalau kamu ingin mencintai seseorang yang sempurna. Sampek dunia runtuh juga tidak akan menemukan orang yang sempurna. Kalau orang yang hanya terlihat sempurna dan menyembunyikan banyak kekurangannya. Orang seperti itu bisa kamu temukan dimana-mana.
    Karena banyak yang terlihat hebat, banyak terlihat memiliki segalanya. Tetapi dia juga memiliki kekurangan dan keburukan yang juga sebanding dengan kesempurnaan yang dimiliki olehnya. Jadi jangan pernah berharap mencintai seseorang yang sempurna.

    Jika Ingin Mencintai Seseorang, Cintailah Dia Bukan Karena Menurutmu Dia Terlihat Semuprna

    Kalau kamu setiap ingin jatuh cinta harus menemukan seseorang yang harus seprti ini dan seperti itu. Maka sampai kapan pun kamu tidak akan medapatkan orang yang seperti itu. Karena perasaan cinta itu datang secara tiba-tiba tanpa kamu minta dan tidak bisa kamu kendalikan ingin mencintai siapa yang kamu inginkan.
    Maka ketika cinta itu datang menghampirimu maka cintailah dia bukan karena menurutmu dia terlihat sempurna. Tetapi karena kamu sudah siap mencintai apa pun tentangnya.

    Tetapi Cintai Dia Dengan Segala Kekurangan Yang Dia Miliki

    Jangan hanya kagum dengan kehebatannya saja. Jangan hanya ingin mencintai orang yang menurutmu terlihat sempurna saja. Akan tetapi jika kamu benar-benar mencintainya maka cintai dia dengan segala kekurangan yang dimiliki olehnya. Tidak perduli apapun keburukan yang dia miliki, perasaanmu tidak akan berubah. Kamu akan tetap mencintai dia.

    Buatlah Dia Merasa Sempurna Dengan Cinta Yang Kamu Miliki Diatas Segala Kekurangannya

    Bahkan saat kamu mampu mencintainya dengan tulus. Menerima semua kekurangan yang dia miliki, tetap bertahan dengan segala keburukannya. Maka kamu pantas mendapatkan kelebihan dan kehebatan yang dia miliki.
    Jangan memikirkan tentang kekurangan dan keburukan yang dia miliki. Buatlah dia merasa sempurna dengan cinta yang kamu miliki. Meski dia memiliki banyak kekurangan dan keburukan.

    Karena Mencintai Seseorang Itu Bukan Tentang Kesempurnaan Yang Dia Miliki. Tetapi Tentang Bagaiamana Saling menerima Kekurangan Masing-Masing Apa Adanya

    Ingatlah bahwa mencintai sesoerang itu bukan hanya mencintai dia dengan segala kesempurnaan dan segala yang dia miliki. Tetapi ketika kamu mencintai seseorang kamu sudah siap dengan semua kekurangan yang dia miliki.
    Kamu harus bsia mencintai kekurangan dan kelebihannya sekaligus. Bahkan kalau perlu kamu harus bisa mencintai kekurangannya terlebih dahulu sebelum mencintai kelebihan yang dia miliki.
    Masdedo ft Christin
  • Hidup Bukan Tentang Cinta Doang, Masih Ada Orang Tua Yang Harus Kamu Banggain. Semangat

    Jangan hanya memikirkan masalah perasaanmu saja, karena kamu hidup bukan tentang cinta doang. Kamu masih memiliki orang tua yang harus kamu banggain. Kamu masih memiliki keinginan yang harus kamu capai. Jangan memikirkan tentang cinta jika kamu masih dalam proses untuk menuju masa depanmu.
    Fokuslah dengan apa yang kamu inginkan terlebih dahulu, karena jika kamu memikirkan hal cinta dan mengutakan perasaanmu. Yang ada kamu hanya akan mengalami yang namanya patah hati dan patah ssemangat.

    Jangan Hanya Berbicara Soal Perasaan Cinta Doang, Karena Kamu Hidup Bukan Hanya Untuk Soal Cinta

    Perjalananmu masih panjang, jangan prioritaskan cinta sebagai satu hal yang akan membuat kamu bahagia. Karena dari pada kamu mencintai seseorang namun pada akhirnya kamu akan kehilangannya.
    Maka lebih baik kamu mengejar cita-citamu terlebih dahulu, urusan cinta dan perasaan jadikan nomer yang sekian. Kamu harus semangat karena ada orang tua yang harus kamu bahagiakan terlebih dahulu, dari pada membahagiakan anak orang lain yang belum tentu menjadi milikmu.

    Masih Banyak Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Dan Membuat Orang Tuamu Bangga

    Jika kamu menomor satukan cinta, kamu akan mengalami yang namanya sakit dan kurang bersemangat dalam menjalani hidup. Waktumu masih sangat lama dan begitu panjang, jadi jangan memikirkan urusan percintaan terlebih dahulu. Jadikan cinta itu deretan paling terakhir setelah kamu mencapa keinginanmu dan mampu membahagiakan orang tuaamu.

    Jangan Dahulukan Masalah Perasaan Dan Cinta Jika Orang Tuamu Saja Belum Kamu Bahagiakan

    Memiliki perasaan cinta itu adalah hal yang memang dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi mendahulukan perasaan cinta jika orang tuamu saja belum kamu bahagiakan.
    Gapai samu keinginanmu, lakukan yang terbaik untuk hidupmu sendiri. Buat orang tuamu bangga dan selalu tersenyum ketika melihatmu. Dari pada ngurusin perasaan cinta yang ujung-ujungnya hanya bikin sakit hati dan galau berbulan-bulan.

    Jangan Sok-Sok-an Mau Ngebahagian Anak Orang Kalau Orang Tuanya Belum Kamu Bahgaian

    Kebanyakan anak jaman sekarang malah ngebagaian anaknya orang dari pada membahagiakan orang tuanya sendiri. Giliran patah hati, patah semangat seperti orang yang enggan untuk hidup.
    Galau berbulan-bulan, nyessek karena dikecewain dan disakiti. Makanya gak usah sok-sok-an mau bahagian anak orang dulu kalau orang tuanya saja belum kamu bahagian. Bahgaian diri sendiri dan orang tua dulu, baru setelah itu bahagian anak orang lain.

    Lebih Baik Fokus Sama Apa Yang Kamu Inginkan Dan Kamu Cita-Citakan, Masalah Cinta Urusan Belakangan

    Kalau kamu sudah sukes dan mampu membuat orang tuamu bangga. Kamu tinggal pilih ingin dicintai oleh seseorang yang seperti apa dan bagaimana. Dari pada ngurusin masalah cinta, lebih baik fokus dengan apa yang kamu inginkan dan yang kamu cita-citakan terlebih dahulu. Malasah cinta urusan belakangan setelah kamu mampu membuat orang tuamu baggaa kepadamu.


  • Balada The Lone Ranger

    Di tangan Ahok semua tradisi dirobek-robek. Jika selama ini seorang gubernur menyembah para DPRD, gubernur Ahok membanting DPRD ke dasar jurang. DPRD yang memang sudah menjadi sarang maling, berteriak lantang menyemprit Ahok. Tetapi Ahok lebih galak, ia meneriaki mereka lebih lantang, hingga semuanya menekuk ekor tak berkutik, bagai kucing ketakutan di pojok ruangan.

    Di era Ahok, DPRD bak barang pajangan, sibuk mengkritik dan hanya makan gaji buta, sementara hasil kerja mereka nol besar. Jika seorang pejabat selama ini harus menjadi contoh bagi publik bagaimana berperilaku santun, berkata lembut, sopan, bertutur kata ajaib, bermanis-manis dengan para koruptor dan penjarah tanah negara, uang negara dan hak orang lain, Ahok malah sebaliknya. Ia berkata kasar, menghantam, memaki para koruptor dan menghina mereka bagai manusia tak beradab. Seolah Ahok tidak peduli dijuluki manusia kasar, sombong dan pongah. Ia tetap menunjukkan karakternya sebagai seorang perobek tradisi.

    Ketika gubernur sebelumnya berdamai dengan preman, mafia, ormas sangar dan para pejabat rakus terkait dengan lahan negara, Ahok sebaliknya. Ia merobek tradisi itu. Ia melawan para para ‘tikus-tikus’ itu dengan semangat heroik luar biasa. Jika para preman ingin membunuhnya dengan anak panah di Kalijodo, Ahok malah lebih galak mengancam. Ia menyerang preman dengan tank berteknologi laser. Hasilnya, para preman itu lari tunggang langgang sambil terkencing-kencing ketakutan.

    Menjelang Pilkada, biasanya seorang incumbent bermanis-manis kepada rakyat dan kepada para bawahannya, tetapi Ahok malah sebaliknya. Ia semakin galak memaki, menggusur, mengomel dan memecat bawahannya. Ahok tetap seperti aslinya, original dan apa adanya. Ia tidak meniru para calon gubernur lainnya yang tiba-tiba pergi ke pasar pakai baju micky mouse, hadir di tengah kampung pelacuran, makan nasi akik dan makan di warteg. Jika selama ini partai sok berkuasa, sombong, minta ini-itu dari calon kepala daerah, Ahok malah membuang mereka bagai sampah.

    Partai tak berguna, menjadi beban negara, terlalu lamban bergerak, berlindung di balik jargon demokrasi. Jika partai mencoba mencekram Ahok, sebaliknya Ahok mencekik leher mereka tanpa ampun hingga berteriak histeris mengumbar deparpolisasi, delegitimasi partai. Ahok dengan gagah berani maju sendirian lewat jalur maut penuh resiko tinggi, jalur independen.

    Berhadapan dengan ketua partai sekelas Megawati, para calon kepala daerah mengumbar rayuan maut, datang menyembah dan bersujud kepada si Mbok yang sudah bergerak lamban dan terlihat bosan merengkuh kekuasaan. Tetapi Ahok lain. Ia datang dengan kepala tegak, ia menatap dengan tajam mata Megawati lalu memberinya ancaman: Restui Djarot atau kita pisah dan saya berjuang sendiri. Anda punya waktu satu minggu. Lalu ia pergi diiringi lototan keraguan Megawati yang terbentur dengan mekanisme dan tata krama partainya.

    Ketika datang di hadapan Mega, Ahok terlihat merobek tradisi: “jangan pernah manyakiti Mega, ia tidak pernah memaafkan anda”. Tetapi Ahok tidak peduli kepada Megawati dengan dendam kesumatnya. Ahok tidak belajar kepada mantan Presiden SBY yang menjadi korban dendam Megawati. Sejak 2004 lalu saat keduanya berseteru, Megawati tidak pernah mau bicara langsung kepada SBY. Ia masih dendam karena SBY melengserkan dirinya sebagai presiden. Padahal SBY adalah hanya menteri yang diangkatnya. Sakitnya tuh di sini.

    Ahok juga tidak belajar ketika Jokowi yang sudah menjadi Presiden sekalipun, Mega harus tetap disembah. Ketika Jokowi tidak melakukannya, Mega membanting Jokowi dengan menyebutnya hanya petugas partai. Ia lalu menjegal Jokowi untuk tidak mengucapkan sebuah pidato di kongres PDIP beberapa waktu lalu. Belakangan diketahui, itulah konsep sebuah pidato seorang Presiden RI yang tidak pernah diucapkan. Sadisnya. Tetapi Ahok tidak takut, ia menantang Megawati. Gue adalah seorang pejuang, bukan seorang penjilat.

    Jika para kepala daerah selama ini takut dipanggil oleh komisi III DPR Senayan dan tidak berani beragumentasi melawan mereka di depan publik, Ahok sebaliknya. Ketika Ahok tahu bahwa para anggota DPR Senayan mulai bermain politik dan mencari-cari alasan untuk memanggilnya terkait Kalijodo, prostitusi di Hotel Alexis dan seterusnya, Ahok malah lebih galak dari mereka. Jika mereka bagai ‘anjing yang menggonggong’ Ahok bertindak bagai ‘singa yang mengaum’. Ahok skak dan memanggil mereka sebagai anggota DPR baru yang ‘belagu’ tak tahu prosedur dan mekanisme kerja mereka. Jadilah anggota DPR Senayan ribut luar biasa karena tersinggung. Lalu merekapun tidak fokus bekerja dan tidak menghasilkan apapun di DPR sana.

    Jika seorang politisi datang menyembah Karni Ilyas di ILC TV One agar tidak menyudutkannya, malah Ahok sebaliknya, ia tidak menghadirinya. Ahok seolah membiarkan Karny Ilyas berimprovisasi dengan bebas mengundang nara sumber yang itu-itu saja seperti Ratna Sarumpaet, dan seterus ngomong bebas tanpa ada yang membantah. Ahok seolah mengajari publik silahkan tonton lelucon di TV One sebebasnya sambil menyaksikan kemenangan semu mereka.

    Ahok seolah membiarkan orang-orang di sana memaki dirinya dan temannya agar semua terbuka kepada publik siapa orang-orang pengecut yang hanya ngomong doang dan pintar mengkritik tanpa kerja sama sekali. Biarkan mereka puas menghadirkan pengadilan TV One yang memang beda, punya cirri khas kedunguannya sendiri. Ketika Ahok merobek-robek semua tradisi yang sudah ada, semua menjadi ribut, semua kebakaran jenggot. Benar, robekan tradisi yang dilakukan Ahok, tiba-tiba menimbulkan efek dahsyat luar biasa.

    Para politisi ribut tersinggung, para pemilik partai merasa dicampakkan, para pejabat seolah-olah disemprot dengan air panas, para pengamat merasa disepelekan. Lalu mereka satu suara, bagaikan koor bersuara bass, tenor, alto, baritone, sopran, lengserkan Ahok, lawan Ahok dengan cara apapun. Akan tetapi Ahok adalah pejuang anak bangsa yang hanya sedikit di republik ini. Ia adalah termasuk manusia langka yang hidup di zamannya. Ia tidak takut resiko, ia maju terus sampai akhir hayatnya. Ia siap menang, siap kalah. Ia siap dicampakkan oleh bangsanya sendiri. Namun tidak menyerah. Ia terus mati-matian berada pada rel kebenaran, kejujuran dan intgritas tinggi. Ia maju ke depan menentang bangsanya yang bermental korup, bermental penjajah bagi rakyat, bermental hedonis, konsumeris dan materialis.

    Lewat karakter petarungnya, Ahok membakar semangat teman-temannya yang peduli dengan perjuangannya, idealismenya dan mimpinya menjadikan negeri ini maju setara dengan bangsa lain. Ia terus memantik api roh teman Ahok agar dengan gigih berjuang tanpa bayaran, tanpa imbalan untuk merevolusi bangsa ini. Selamat berjuang Ahok dan teman Ahok, anda didukung oleh anak-anak muda pecinta kebenaran dan keadilan di negeri ini.

    Sprit Perjuangan..!
    AHOK
  • Kartini Bukan Valentine

    Ada fenomena sosiokultural yang menarik, akhir-akhir ini anak-anak muda sibuk merayakan Hari Valentine (Valentine’s Day) ketika 14 Februari tiba. Bahkan, beberapa hari sebelumnya mereka mempersiapkan kartu ucapan selamat atau aneka bingkisan. Ketika Hari Valentine tiba, banyak SMS berisi ucapan selamat dan bingkisan cokelat yang “beterbangan” ke aneka jurusan. Mereka sangat antusias merayakannya.

    Bagaimana dengan Hari Kartini? Ketika 21 April tiba, biasanya tidaklah semeriah ketika mereka merayakan Hari Valentine. Lebih dari itu, bahkan banyak anak muda kita yang acuh tak acuh dengan Hari Kartini.

    Benar bahwa Presiden Soekarno pernah menandatangani keputusan Presiden Republik Indonesia No 108 Tahun 1964, tanggal 2  Mei 1974, yang menetapkan Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan nasional sekaligus menetapkan hari kelahiran Kartini, 21 April untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Meski begitu, perayaan Hari Kartini tidak semeriah Hari Valentine.

    Beda Orientasi
    Orientasi Hari Kartini dan Hari Valentine berbeda. Hari Kartini diambil dari hari kelahiran RA. Kartini di Jepara – Indonesia yang memperjuangkan terwujudnya emansipasi perempuan Indonesia. Pada sisi lain, Hari Valentine diambil dari hari dipenggalnya kepala St. Valentine atau Santo Valentinus di Roma, Romawi, yang melawan kebijakan Kaisar Claudius.

    Bahwa Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan bagi bangsanya, itu tidak perlu diragukan. Dalam buku Door Duisternis tot Licht (1911) yang dihimpun J. H. Abendanon yang merupakan kumpulan surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya dari Eropa serta dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran (1922) yang disusun Armijin Pane dkk, terlukis keinginan kuat Kartini untuk mengantarkan perempuan pribumi pada derajat yang sama dengan pria.

    Pada usia 12 menjelang 13 tahun, Kartini mulai dipingit orang tuanya. Dia baru saja selesai belajar di Europese Lagere School (ELS) dan ingin melanjutkan sekolah dokter di Belanda tetapi tidak diizinkan ayahnya. Dia pun belajar mandiri dan mengungkapkan keinginannya untuk membawa kemajuan bagi perempuan pribumi kepada sahabat-sahabatnya.

    Di rumah, dia membaca Koran, majalah, dan buku-buku bermutu. Koran De Locomotief dan majalah De Hollandsche Lelie merupakan menu bacaannya. Buku-buku berbahasa Belanda karangan Van Eedan, Augusta de Witt, Goeekoop de Jong Van Beek, dan sebagainya juga menjadi menu bacaannya. Buku Max Havelaar karya Multatuli, De Stille Kraacht karya Louis Coperus, serta roman Die Waffen Nieder karya Berta von Suttner bahkan dibacanya berkali-kali. Dari belajar mandiri itulah Kartini tumbuh menjadi perempuan cerdas yang cekatan dalam berkorespondensi.

    Ketika dinikahi Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat pada 12 November 1903, Kartini segera  mendirikan sekolah perempuan di kompleks kabupaten dan Kartini sendiri yang menjadi gurunya. Jadi, peringatan Hari Kartini lebih berorientasi pada emansipasi perempuan Indonesia.

    Valentine berbeda dengan Kartini. Kaisar Claudius membuat kebijakan tidak boleh ada perkawinan pria dengan perempuan karena mengakibatkan para pria enggan menjadi prajurit kerajaan untuk menundukkan Negara-negara sekitar. St. Valentine melawan kebijakan Kaisar Claudius dengan tetap mengawinkan pria dengan perempuan yang saling mencintai. Ketika kegiatan itu diketahui kerajaan, Valentine ditangkap dan pada 14 Februari 269 M kepalanya dipenggal. Seperempat abad kemudian, tepatnya 496 M, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai Hari Valentine. Jadi, perayaan Hari Valentine lebih berorientasi pada ekspresi kasih sayang antara pria dan perempuan.

    Kewajiban Pemerintah
    Mengapa pada era globalisai ini peringatan Hari Kartini semakin surut, tetapi perayaan Hari Valentine semakin meriah? Itulah permasalahan kita sekarang.

    Mengenai Valentine, jawabannya sederhana. Perayaan itu meriah karena kelalaian marketing orang Eropa dan AS dengan menciptakan mitos-mitos baru seolah-olah yang mereka rayakan adalah pesan St. Valentine. Anak muda Jepang yang dulu tidak mengenal Hari Valentine sekarang getol merayakannya. Lebih dari itu dalam merayakan, muncul tradisi baru yang disebut Girichoko, yakni kewajiban para perempuan memberikan hadiah cokelat kepada teman pria; seolah itu semua pesan St. Valentine.

    Masyarakat Taiwan dulu juga tidak mengenal Hari Valentine karena telah memiliki “Hari Raya Anak Perempuan” yang disebut Xi  Qi. Namun, kini banyak anak muda Taiwan yang lebih senang merayakan Hari Valentine daripada Hari Raya Anak Perempuan.

    Anak muda Indonesia pun cenderung demikian, lebih suka merayakan Hari Valentine daripada Hari Kartini. Merayakan Hari Valentine tentu tidak dilarang, tetapi jangan melupakan Hari Kartini.

    Kalau kita ingin masyarakat antusias memperingati Hari Kartini seperti beberapa tahun lalu, pemerintah wajib memperbaiki “marketing” Hari Kartini. Pemerintah harus mampu mengondisikan peringatan Hari Kartini sembari meyakinkan masyarakat akan pentingnya mengimplementasikan konsep emansipasi perempuan di tengah-tengah era globalisasi sekarang. ( Nomasdedo )

    Sumber:
    RA. Kartini
  • Selamat Lima Belas April, Kristina Manurung

    Ini hari besarmu, berbahagialah dua kali lipat dari biasanya. Awali pertambahan usiamu dengan doa dan tersenyumlah. 

    Tolong jangan pernah berpikir bahwa kamu tak dicintai siapa-siapa. Saat hidup mengajakmu bermain bianglala, nikmatilah edar naik turunmu. Jatuh itu sakit, tapi takkan sesakit saat kamu menahannya sendirian. Ingatlah aku dan Tuhan. Dua sahabat yang mungkin ada tak begitu nyata terlihat, tapi dukungan dan sumbangan pelukan akan selalu berjalan pekat. Aku tidak bisa memastikan keadaanmu akan baik-baik saja, karena itu kendali semesta untuk menghadirkan pelajaran yang mendewasakan. Tapi selama peganganmu masih tak terlepas pada Tuhan, aku bisa memastikan Dia yang terbaik yang bisa membuat keadaanmu kembali baik. Saat pergantian hari tadi, aku melipat jemari. Berbisik-bisik pada Ayah kesayangan kita di Surga. Aku merayunya untuk kembali menghadirkan pertemuanmu dengan pria kesukaanmu. Sayangnya Tuhan lebih tahu serindu apa hatimu. Meng-iakan bukan berarti langsung melaksanakan. Tunggu waktuNya ya? Mungkin ketika kau tak berharap, langkahnya sedang berderap menujumu hingga muncul lagi ketika kamu terlelap.

    Bertambah usialah terus, Kristina Manurung. Semakin mendewasalah.

    Aku berterima kasih atas peran Tuhan dalam menghadirkanmu dua puluh tahun yang lalu. Aku berterima kasih atas usilnya semesta dalam mempertemukan kita. Ingat proyek tulis menulis bulan Maret lalu? Kita hadir dalam ketidaksengajaan, namamu yang sering berlalu-lalang cukup mengusik kornea untuk ikut penasaran. Hingga tangan Tuhan merakit kita dalam sebuah pertemuan. Hingga akhirnya resmi banyak hal terjadi yang mengikat kita untuk semakin mengenal lebih lagi. Banyak kesamaan, banyak pertidaksamaan. Tapi bukan dari itu tolak ukur persahabatan kita. Aku tidak tahu bagaimana sejarah cerita kita nanti, tapi aku tak ingin tali ini putus. Semarah apapun, setidaksuka apapun, aku harap kita tak pernah amnesia untuk selalu bermaafan dan kembali. Banyak mimpi yang ingin kugantungkan dengan tali. Tapi aku terlalu pendek, aku perlu seseorang untuk membantuku menggantungkannya. Hingga nanti ketika Tuhan sudah begitu jauh melihat usaha kita, lalu Dia pun luluh untuk bilang ‘iya’. Aku akan bersabar sampai saat Tuhan menggenapi mimpi-mimpi sederhana kita. Kamu juga kan?

    Bahagia selalu ya. Jangan bosan-bosan untuk berada di dekat pria kesayanganmu. Ya, aku. Hanya sepuluh jemari, hati, dan liarnya bibir yang berkomat-kamit mengirimkan bungkusan doa. Maaf jika hanya bisa memberi sesederhana itu.***
  • Selamat Tinggal

    Ada sebuah janji yang tak pernah lagi bisa ditepati, karena kita memilih pergi. Satu yang memecahkan diri, berpisah haluan, mengucapkan selamat tinggal karena sudah menemukan kebahagiaan yang lain. Dan satunya lagi yang tersakiti, terlalu mencintai, tak terima dengan realita yang menyuguhkan luka lalu memilih untuk mengasingkan diri.

    Aku tahu bahwa perpisahan selalu menyakitkan. Tapi tidak ada yang bisa mencegah kedatangannya, tidak ada yang tahu kapan ia tiba dan tidak ada yang menginginkannya. Jika saja bisa, aku mau tetap tinggal. Jika saja bisa, aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa. Jika saja bisa, aku ingin terus bersama. Jika saja bisa, aku tidak mau ada sebuah perpisahan. Karena perpisahan itu menjauhkan. Semanis apapun, sebaik apapun bentuknya, perpisahan hanya akan mengasingkan kita. Lalu untuk apa bertemu, jika akhirnya berpisah?

    Aku masih mencintaimu. Masih sampai detik dimana kamu mengecup keningku, masih sampai detik dimana kamu sibuk dengan duniamu, masih sampai detik dimana kamu berhenti memusatkan hatimu untukku, masih sampai detik dimana kamu menciptakan segitiga baru antara aku, dia dan kamu, masih sampai detik dimana kamu menghilangkan ritual-ritual manis kita, masih sampai detik dimana kakimu pelan-pelan mulai menjauh, masih sampai detik dimana kamu benar-benar berubah dan memilih pergi. Dan masih sampai detik ini, aku mencintaimu. Karena itulah hatiku begitu pedih dengan perpisahan yang tak pernah ingin kutuliskan skenarionya.

    Waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Jika kamu memilih pergi, maka pergilah dan jangan kembali. Untuk berdamai dengan kenyataan dan mengalah dengan penyangkalan, sungguh aku perlu waktu. Tapi setidaknya aku telah berani membiarkanmu pergi, merelakan agar hati tak dibuat berkeping lagi. Tentang hal yang hak patennya sudah tak bisa diubah, aku hanya bisa menerima bahwa kamu sudah tak lagi cinta. Mungkin dengan perpisahan ini, ada pertemuan lain yang sedang disiapkan. Tidak apa-apa, karena segalanya sudah dikendalikan oleh yang lebih Ahli.

    “Its okay to walk out of someone’s life if you don’t feel like you belong in it anymore”

    Berbahagialah. Ini bukan ritual kata yang kuucapkan sebagai salam perpisahan agar terlihat sempurna. Tapi sungguh, aku ingin kamu bahagia. Karena pernah aku melihatmu tersenyum manis, tertawa lepas, saat kita jatuh cinta dan seperti surga rasanya. Dan jika aku tak bisa lagi membuatmu seperti itu, berbahagialah dengan yang bukan aku. Jatuh cintalah lagi, karena hatimu butuh. Jika kamu telah menemukan orang yang tepat, aku berdoa agar tidak ada sebuah perpisahan. Karena sungguh, itu menyakitkan.

    Aku pergi, aku akan segera menyembuhkan hati, aku akan menemukan bahagiaku sendiri.

    Selamat pergi, Selamat tinggal (di hati yang lain).
    Ilustrasi

  • Rumah

    “I’m only happy when I’m with you.
    Home for me is where you are.
    I try to smile and push on through.
    But home for me is where you are.”

    Aku menyebutmu rumah, bukan tempat singgah. Kamu menyamankan, mengamankan dan menyenangkan. Kamu adalah alasan dibalik segala kepulanganku. Melewati malam-malam sulit, dengan menemukanmu ada disana saja sudah meringkankan bebanku meski hanya sedikit. Menghabiskan berjam-jam dalam diam atau percakapan yang tak kenal pemberhentian adalah beberapa hal yang tak pernah bisa kutolak darimu.

    Terlalu tinggikah jika bahagia yang paling sederhana buatku itu kamu? Terlalu egoiskah jika aku hanya ingin kamu, bukan yang lain?

    Karena di dekatmu, kesedihanku tidur dengan lelap. Di ninabobokan oleh rasa nyaman yang terlalu sulit kugambarkan. Senyummu, sudah memasuki dosis manis yang paling kritis. Aku terlalu suka dan tak bisa kucegah untuk bersikap lebih biasa dari biasanya. Perlakuanmu, dengan magis mengubah tangis jadi tawa paling manis. Semakin hari, semakin aku dibuatmu jatuh cinta. Aku terlalu bahagia. Sampai lupa mempertanyakan satu hal yang paling fatal membuat segala luka jadi kekal.

    Termasuk apakah aku buatmu?
    Rumah ataukah tempat singgah?

    Karena aku terlalu takut, bukan hanya aku saja yang mencicipi manis yang kau ciptakan. Karena aku terlalu takut untuk terburu-buru menetapkan hati pada yang sebenarnya menganggapku dengan setengah hati. Jika nanti ada jarak yang menggagalkan kita untuk bersama, bolehkah aku tetap memanggilmu rumah? Tempat ketetapan kemana hati ini menetap. Tempat kemana aku mengirimkan rindu meski jauhnya jarak memisahkan.

    Dan tempat kemana hati yang lelah ini ingin selalu pulang.
    Ilustrasi
  • Kota Kenangan


    Kepada Kota Kenangan,

    Tempat yang banyak dirindukan orang. Tempat yang paling mematikan karena banyak peristiwa dilahirkan. Tempat rahasia yang masih sering kukunjungi sendirian. Tempat dimana semua orang bilang, kamu harus dilupakan. Tak ada tempat sebaik kenangan yang menghadirkan dia sebagai cinderamatanya. Kenangan selalu mengijinkan dia untuk dibawa pulang, tapi mungkin dia yang belum mau pulang. Karena mungkin hanya disitulah ada kata mengenang dan mengulang. Dan hanya di kotamu, dia objek wisata yang selalu kunantikan.

    Kepada kota yang dihadiahkan oleh dia yang kucintai setelah jejaknya tak bisa lagi terdeteksi, aku ingin bertanya. Masihkah dia sering mengunjungimu? Masihkah dia naiki bus tujuan ke kotamu, untuk sekedar mengenang yang pernah kami miliki? Atau hanya aku seorang yang masih sering mampir ketempatmu? Masihkah dia mengingatku? Masalahnya kami sudah jarang berpapasan di bus, kami sudah jarang sekali bertemu. Dulukan kami sama-sama warga, sama-sama tetangga. Yang bukan hanya sering bertegur sapa, tapi selalu menghabiskan waktu bersama ditempat dimana kau berada. Kau kan saksinya.

    Saat membaca surat ini pasti kau sedang bersedih mendengar ceritaku. Aku memang rindu padanya. Aku rindu bersama dia saat dulu kotamu bukan kenangan namanya. Waktu yang terlalu cepat mengubah namamu. Tapi tenanglah, aku percaya siapapun yang dilahirkan disana. Siapapun yang pernah lahir dikotamu, pasti akan selalu berkunjung ke kotamu. Mungkin aku tak akan jadi warga yang menetap dikotamu lagi. Tapi tolong tetap cantumkan namaku, agar ketika dia datang ke kotamu Ia tau aku masih sering kesana. Kalau ia tidak percaya, tunjukkan saja surat ini. Bilang padanya, temui aku disana dan pulang bersamaku ke Kota Sekarang. Dan kapanpun Ia mau, aku bisa menemaninya pulang ke kotamu. Kota yang telah membesarkan hatiku untuk selalu belajar pada masa lalu dan menghargai waktu, aku berterima kasih padamu.

    Dari aku yang mencintaimu.
    Pantai Pandawa - Denpasar, Bali
  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    NOMASDEDO Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan Redesign by Mung Bisnis