• Kampus Lockdown, Tugas Smackdown, Mahasiswa Down

    Sudah satu tahun lamanya Indonesia diserang wabah virus corona yang menyebabkan semua kegiatan aktifitas apapun terhenti. Semua kegiatan di lakukan di rumah, bekerja dan belajar salah satunya. Dalam dunia pendidikan, pembelajaran di lakukan secara daring atau online.

     

    Bicara tentang pembelajaran online dan bagaimana kabar mahasiswa yang sedang menjalani kuliah online? Disini saya ingin berbagi suka dan duka yang saya alami selama #KuliahOnline.

     

    Pernah kah kalian membayangkan kuliah sambil rebahan? Ya itu semua bisa kita lakukan saat kuliah online. Bahkan tak sedikit pun ada yang melakukan kegiatan lainnya seperti makan, memasak, mencuci, bahkan tidur lagi. Berbeda dengan kuliah offline, dimana kita bisa fokus saat perkuliahan itu berlangsung. Memang tidak semua mahasiswa seperti itu, tetapi ada dan tidak sedikit juga melakukan kegiatan lain selama kuliah online berlangsung.

     

    Kuliah online memang nyantai, tetapi tugas ngak nyantai. Waktu perkuliahan di kurangi, tetapi tugas nge-gas terus. Banyak dari beberapa dosen yang tidak mau tahu dengan tugas. Memberi tugas sebanyak mungkin seakan-akan kita hanya mempelajari satu mata kuliah saja.

     

    Tidak sedikit juga tugas yang memiliki deadline yang mepet. Apalagi jika kita memiliki kuota yang terbatas maka kita akan ketinggalan tugas yang diberikan oleh dosen dan ilmu pun tak dapat. Menjalani kuliah online bukan hanya perbedaan lokasi melainkan metode perkuliahan. Bila kuliah biasa fokusnya adalah tatap muka maka kuliah online fokusnya adalah tugas, tugas dan tugas.

     

    Coba kalian bayangkan kalau ada mahasiswa sial yang mengambil 24 SKS di semester ini. Jika setiap mata kuliah terdapat 2 SKS, maka jumlah mata kuliah yang di ambil ada 12. Sungguh ku tak sanggup membayangkannya.

     

    Tugas bukanlah satu-satunya kendala. Ada juga masalah dengan komunikasi. Kebanyakan dosen akan menggunakan media pembelaran seperti Google Classroom, Zoom Meeting dan WhatsApp untuk melakukan perkuliahan. Jika kalian bukan pengguna wifi pasti merasakan betapa besarnya aplikasi ini menyedot kuota.

     

    Terlebih untuk Zoom Meeting itu sendiri yang merupakan sebuah media pembelajaran menggunakan video. Kalau dosennya baik kita bisa off screen demi menghemat kuota, bagaimana jika kita dituntut untuk mengaktifkan video? Mungkin kuota 10 GB perbulan pun tidak akan cukup apalagi kalau Zoom Meetingnya berlangsung lama.

     

    Mau aktifkan video juga pastilah ngak nyaman. Pernah ngak tiba-tiba di layar Zoom Meeting terdapat penampakan seperti anggota keluarga yang tiba-tiba masuk kamar? Atau mungkin ada anggota kelurga yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk? Haha, semoga kita semua tidak mengalami hal seperti itu ya...!!

     

    Penggunaan Google Classroom juga harus hati-hati, pastikan dengan baik bahwa tugas sudah diserahkan. Jangan sampai sudah upload namun tidak diserahkan. Jika tidak, kita akan dapat nilai E.

     

    Bersabar jugalah untuk kita semua yang non-wifi user. Kita pasti tau bagaimana beratnya harus download aplikasi untuk tugas, share file dari handphone ke laptop atau sebaliknya serta kuota ilmupedia yang hanya one time purchase.

     

    Ya, mau bagaimana lagi? Kita harus terima keadaan dan pasrah pada nasib. Mari berdoa agar dosen menghargai segala jerih payah kita dan membayarnya dengan nilai A. Aamiin...!!




  • Dear Ibu

    Ibu, terima kasih telah melahirkanku ke dunia ini, terima kasih juga telah membuatku mengenal bagaimana kehidupan dunia. Tanpamu aku takkan mungkin ada di dunia ini. Kasih sayangmu dan tulusnya cintamu bagaikan air mengalir yang tiada henti menghampiriku setiap detik. Engkau rela mempertaruhkan nyawamu demi melahirkanku. Engkau adalah bidadari dunia yang selalu menjagaku, guru dalam kehidupanku yang setiap saat mengajariku banyak hal. Engkau adalah bidadari yang dikirimkan oleh Tuhan untukku. Semasa aku masih menjadi pangeran mungilmu, engkau selalu merawat dan menjagaku tanpa berkeluh kesah. Walau ragamu terasa lelah, secercah senyumanmu tetap menyinari hari-harimu ketika melihat pangeran mungilmu. Kini, pangeran mungil itu sudah dewasa.


    Ibu, aku akan selalu ingat pesan terakhirmu di saat aku balik ke rantauan beberapa bulan yang lalu. Ibu pernah berkata "Jika Ibu tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi, jangan takut kehilangan Ibu...!! Ibu akan selalu ada buat kamu, sekalipun Ibu tidak terlihat secara kasat mata, tapi Ibu selalu menjaga dan memperhatikanmu dari atas sana". Apa masih ingat kalimat terakhir yang pernah Ibu ucapkan untukku?

    Apa sekarang Ibu lagi memperhatikanku?

    Apa Ibu meridukanku?


    Dan, sekarang...

    Ibu apa kabar disana?

    Sudah bahagia disana?

    Apakah disana tidak lagi sakit-sakitan?

    Apakah disana menyenangkan?

    Saya pengen tau Bu, bagaimana keadaan Ibu disana?


    Ibu, aku pengen cerita tentang banyak hal kepadamu. Tapi aku bingung mulainya dari mana. Tapi yang jelas aku mencintaimu oleh karena itu aku membuat tulisan ini, aku tuangkan serta tumpahkan kedalam tulisan dan berharap pesan ini akan sampai kepadamu.




     

  • Selamat Datang Di Semester Lima

    Gimana kabar gaes? Udah lama saya ngak blogging. Nulis sih tetap tapi bloggingnya yang kesendat mulu, ada aja kendala buat mostingnya. Malas keluar rumah beli kartu paketan internet. Ya... maklum, di tempat saya ini semuanya serba jauh kalau mau butuh apa-apa, Wi-Fi ngak ada. Jangankan Wi-Fi, listrik aja ngak ada. Hhaha

    Beda kalau ada di Malang, ada Wi-Fi gratis di kampus ya rajin bloggingnya. Kalau udah libur gini (pulang kampung) susah mau blogging, ngak ada Wi-Fi. Ya nyabar dulu aja buat rajin blogingnya. Sebenarnya postingan ini udah minggu lalu saya selesai nulisnya. Ya, sekarang lagi sempat aja mosting mumpung ada teman baik saya waktu SMA dulu punya paketan internet.

    Oya, saya hampir lupa mau ngucapin selamat datang di semester lima buat adik-adik yang ngambil jurusan Ilmu Komunikasi khususnya semester empat, bentar lagi akan memasuki semester lima. Kalian sehat-sehat kan? Gimana, udah siap ngak tuh jadi mahasiswa semester lima? Apalagi di semester lima ini kalian akan menentukan besik dari tiga konsentrasi yang ada di jurusan Ilmu Komunikasi.

    Semester lima. Ada yang bisa kasih kata yang tepat untuk dua kata ini? Selama berselancar di dunia maya, kepo-kepoin sosial media teman-teman seangkatan. Mereka pasti nulis kayak gini: “Ya Tuhan, baru seminggu libur rasa pengen cepet masuk kuliah lagi, ngak sabar jadi mahasiswa smester lima, dan mungkin masih banyak lagi tulisan-tulisan yang lain.

    Bukan tanpa alasan kegalauan mahasiswa semester lima semakin naik dibanding semester sebelumnya. Semester lima, dimana kita bertemu tugas besar.

    Di semester lima ini, mahasiswa pasti disuguhkan dengan tugas-tugas besar yang selalu dipantau setiap minggu oleh dosen. Apalagi ngambil konsentrasi jurnalistik, ya siap-siaplah hadapin susah-senangnya jadi mahasiswa jurnalistik karena di konsentrasi jurnalisrik ini paling susah dari tiga konsentrasi yang ada di jurusan Ilmu Komunikasi, dan yang pasti tidak pernah lepas dari penulisan berita, analisis berita, dan yang lebih parahnya lagi setiap hari kalian harus mencari/menulis berita selingkup kampus untuk dimuat di LPM – Papyrus (Media Kampus).

    Setiap minggu tugas pasti selalu di update oleh dosen, sehingga kalia juga ekstra belajar untuk mencapai target penyelesaian tugas besar. Bukan satu atau dua mata kuliah yang punya tugas besar, tapi bisa lebih dari tiga tugas besar yang kalian dapat di semester ini. Kebetulan saya sudah melewati yang namanya smester lima dan mengambil delapan mata kuliah. Lima dari delapan ada tugas besar. Banyak? Iya banget, kalau kegiatan menangis bisa menghasilkan uang, mungkin sudah jadi milyader kali ya, hahaha. Jangan terlalu banyak berpikir, mulailah bertindak. Tugas besar bukan berarti hanya kalian yang mengerjakannya, bagi-bagi tugas ke teman satu kelompok kalian. You’ll never walk alone guys, itulah guna berkelompok dalam mengerjakan tugas. Selain itu, jangan lupa untuk menargetkan deadline pengerjaan tugas. Tugas besar akan semakin membesar kalau kita selalu menunda pengerjaannya. Pada akhirnya, kita akan buru-buru mengerjakan tugas, tidur cuma tiga jam sehari, mata panda, dan yang lebih buruk lagi tugas besar kita menjadi tidak berbobot dan terkesan biasa-biasa saja.

    Kalau sudah masuk semester lima, berarti sudah harus mempersiapkan ‘bekal’ menuju semester yang akan datang.

    Sudah menjadi mahasiswa semester lima, berarti tinggal satu tahun lagi menyandang status ‘mahasiswa’ dan sudah harus memikirkan planning setelah lulus kuliah. Selama kuliah ini, pernahkah kalian membuat planning untuk lima atau sepuluh tahun kedepan? Selain memikirkan tugas, kalian pasti pernah terlintas membayangkan seperti apa setelah lulus kuliah. Kalian pasti punya impian dan target yang ingin di capai saat masuk ke dunia kerja. Mungkin ada yang berkeinginan untuk bekerja di media massa menjadi wartawan, presenter, penulis FTV, atau melanjutkan kuliah S2. Sah-sah saja bila kita memiliki impian dan target pencapaian yang banyak, tapi jangan lupa untuk membuat perencanaannya. Ibarat kita ingin membuat kue, kita tahu bahannya apa saja tetapi kita tidak tahu bagaimana langkah-langkah pembuatannya. Alhasil, impian hanya sebatas impian. Impian harus ditulis dan ditempel di depan meja belajar supaya kita tahu apa yang sedang kita kejar dan yang kita perjuangkan. Dengan demikian, kegalauan yang melanda kita bisa di kurangi secara perlahan.

    Jadi, sudah siap menyandang status mahasiswa semester lima?





  • Dear Tuhan

    Tuhan,

    Sejujurnya sudah sejak lama ingin ku tulis surat ini untuk-Mu. Namun kesibukan duniawi membuatku lupa waktu. Jangankan untuk menulis, beribadah saja disetiap hari minggu aku lupa entah kapan terakhir kali aku ke gereja. Banyak hal yang ingin ku ceritakan pada-Mu Tuhan. Aku lelah bercengkrama dengan dunia. Bercerita dengan dunia yang tak kunjung membuatku tenang.

     

    Tuhan,

    Kemarin dunia berkata padaku bahwa semua selalu indah pada waktunya. 

    Kuimbuhkan bahwa hanya jika hatiku cukup tabah dengan segala luka, caci maki, dan sumpah serapah yang sudah lebih dulu ku bayar di muka.

     

    Tuhan,

    Dunia bercerita bahwa ada pemenang maka lahir pecundang di bawahnya.

    Kusela: pecundang bukan selalu mereka yang kalah dalam pertempuran di medan perang. Mereka adalah petarung bagi prinsipnya masing-masing. Tentu mereka tak berusaha untuk kalah.

    Lalu kukatakan: pecundang adalah mereka yang melarikan diri dari perang bahkan dari kata perang itu sendiri.


    Aku jadi ingat cerita temanku dahulu

    Tentang Resi Brihaspati dengan Guru Sukra. Tentang pertempuran tiada henti antara dewata dan raksasa. Dengan bumbu asmara Dewayani dan Kacha yang rumit.

     

    Aku tak mengerti. 

    Bagaimana bisa dalam perang ada asmara? 

    Dulu kuanggap kisah itu adalah dongeng sebelum tidur. Di mana perang hanya bicara yang benar menang dan yang salah kalah. Perang hanya bertukar bunyi pedang keadilan dan tombak kejayaan. Perang hanya bicara tentang kemenangan yang dahsyat dan menaburkan bunga atas kekalahan yang agung.

     

    Kini aku mengerti.

    Karena saat ini aku juga sedang berperang dengan dunia. Aku bahkan hampir kalah. Tapi nyatanya aku juga mencintai dunia. Namun berbeda dengan Dewayani dan Kacha. Cinta mereka saling berbalas. Tapi dunia malah selalu menghianatiku. Seolah dunia hanya memanfaatkanku. Bayak waktu yang seharusnya kuberikan untuk-Mu namun terbuang sia-sia hanya untuk dunia yang palsu.

    Dan Kau tahu Tuhan? Betapa Bodohnya aku yang selalu memaafkan dan kembali terpesona pada rayuan dunia. Dan lagi, Saat hal itu terjadi aku merengek pada-Mu karena dunia lagi-lagi menghianatiku.

     

    Tuhan

    Malam tadi aku berfikir, memikirkan...

    Aku sudah setahun

    Aku sudah lima tahun

    Aku sudah dua belas tahun

    Aku sudah dua puluh tahun

    Aku sudah dua puluh enam tahun

    Mungkin akan tiga puluh tahun

    Empat puluh

    Semoga tujuh puluh.


    Dan apa yang ku dapat setelah berpuluh usia yang ku habiskan dengan dunia? Hanya fatamorgana, didalam kehausan dan kegersangan.

    Banyak yang ku kejar, sementara yang sudah kau sediakan aku abaikan.

    Banyak yang ku cari, sementara yang sudah kau beri aku acuhkan.

    Semua yang ku ingat dari yang kupikirkan, apa yang menungguku setelahnya? Kau yang lebih tahu Tuhan.



     

  • Julita

    Dipagi hari, aku ditemani oleh secangkir kopi mocacino. Pandanganku terpaku pada sudut jendela kamarku yang terlihat oleh cahaya matahari pagi, dan diselimuti hawa dingin yang terasa sampai dalam hati. Memang tak bisa dipungkiri, kini aku sedang memikirkan pada sosok gadis yang bernama Julita, sahabat yang selalu menghantuiku dalam mimpi. Mimpi yang sama seperti hari-hari kemarin. Mimpi yang mengingatkanku pada dirinya satu bulan yang lalu. Awalnya kuanggap seperti bunga tidur saja, tapi setelah kupikir-pikir aku sadar dengan perasaanku padanya ternyata masih tertinggal di sini di hatiku dan kini mulai menampakkan diri lagi dalam ingatan dan rasaku. Tak kusangka dan tak kukira, entah perasaan apa yang datang menghampiriku setelah mengenalinya. Memikirkan dia sahabatku yang aku cintai dan yang kusayangi. Mungkin aku takkan bisa menuliskan karya-karyaku, tanpa kehadiran dia di sisiku, iya bisa disebut dia adalah INSPIRASIKU.

     

    Rasa ini dimulai dari pertama kali aku mengenal ketika dia bergabung di Media Tabloid Pelita. Dia adalah mahasiswi baru di Universitas Tribhuwana Tunggaadewi. Sejak dia bergabung di Media Tabloid Pelita. Aku jatuh cinta padanya saat pandangan pertama, aku hanya mengaguminya. Aku hanya mampu melihat senyumnya. Wanita yang aku suka terlihat cantik dengan gaya khasnya, aku suka itu. Matanya sangat indah, aku suka dia. Semakin hari persahabatanku merasa semakin dekat bahkan aku merasakan sesuatu yang aneh terhadapnya seperti perasaan sayang lebih dari sahabat, aku mencoba untuk memungkiri perasaan ini tapi aku tidak bisa. Setiap dia bersamaku, aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatiku. Aku tidak tau kenapa ini bisa terjadi. Sejujurnya aku takut jatuh cinta pada dirinya, karena dia adalah sahabatku.

     

    Jatuh cinta, berjuta rasanya! Benarkah?

    Orang yang tengah dilanda asmara mungkin akan dilalai bersyair “Cintaku padanya seluas angkasa yang biru, rinduku padanya sedalam lautan Atlantik, kasih suci seputih melati. Atau jangankan ke Ethopia, ke kutub utara sekalipun aku ikut padanya!!” Sebuah kata-kata yang hiperbola. Seorang penyair berkata, “Demi Tuhan tidaklah cinta menawan orang yang dimabuk cinta melainkan ia akan membelah jiwanya”.

     

    Cinta itu unik. Kita tidak akan pernah tau kapan kita akan jatuh cinta. Tidak akan tau siapa yang akan meluluhkan hati kita. Dan tidak akan pernah tau apakah cinta itu akan berbalas ataukah hanya tersimpan rapi di dalam hati. Cinta itu misteri. Penuh teka teki yang membuat kita harus berusaha memecahkannya sendiri. Cinta, lima huruf satu kata penuh makna. Begitulah orang-orang mendefinisikannya. Tak ada yang tahu secara pasti definisi cinta yang hakiki. Meskipun kata cinta sering terdengar di telinga, namun sampai detik ini aku masih belum bisa menafsirkan apa itu cinta.

     

    Jika diibaratkan larutan, dia adalah larutan elektrolit kuat. Daya hantar listriknya sangat baik. Jika diuji pakai alat uji larutan, dia menghasilkan nyala lampu terang. Seterang kulit tubuhnya, secerah pipi chubbynya. Semerah bibir tipisnya. Seindah jari-jemarinya, membuatku terkesima. Sorot cahaya matanya berkilau, puncak hidungnya memukau. Dia menyimpan daya tarik yang luar biasa. Siapa yang tak terpana oleh gemerlap lenggak-lenggok gemulainya, halus tutur katanya, dan lemah lembut budi bahasanya. Dan jika dia satelit, dia adalah bulan paling memukau di malam hari. Saat menatapnya aku selalu melihat saat purnama paling sempurna. Selalu bercahaya di awal, di tengah dan di ujung malam yang gelap. Dia lebih cantik dari bintang di langit. Dia lebih indah dari bunga yang sedang mekar. Dia lebih cepat mengalir dari air di sungai. Dia lebih manis dari madu. Aku terpikat kepadanya.

     

    Jujur, di dalam benakku, aku ingin bisa mendapatkan dirinya dan memiliki dirinya seutuhnya milikku, bukan milik orang lain. Tapi kenyataannya? Haha!


    Memang aku tak pernah jujur padanya untuk hal ini. Entah kenapa bibirku kaku mengatakannya kalau aku mencintainya. Belajar mengungkapkan memang sulit dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ternyata praktek tidak segampang teori. Mungkin aku adalah orang yang paling frustasi di dunia ini, atau aku adalah orang paling bahagia, mungkin juga aku adalah orang yang paling menyedihkan ketika aku sedang jatuh cinta. Tapi kini kusadari aku hanyalah insan biasa yang tak mungkin bisa memilikinya. Jikalau mungkin, itu hanya sebuah mimpi karena aku sadar dia tidak pernah mengharapkanku. Maafkanlah aku apabila aku ungkapkan perasaanku ini lewat sebuah cerpen yang kurangkai hanya untukmu. Jujur, aku bukan lelaki yang populer di kampus, aku hanya lelaki kutu buku yang sehari-hari hanya berkutat dengan buku di perpustakaan maupun di kos-kosan. Memang sulit untuk mengakui ini semua, aku hanya takut, jika aku jujur padanya, aku takut dia berubah terhadapku, aku takut kehilangan sosoknya disisiku.


    Aku sering terluka, bila dia curhat padaku tentang pasangannya yang mengecewakannya, hatiku seperti terpotong menjadi partikel atom-atom, dan dipotong kembali menjadi sebuah bom nuklir, yang akan meledak dan menghancurkan jagad raya dengan kekuatan tiada taranya. Di dalam hatiku aku menggerutu, “hey kamu, sadarkah kamu? Lelaki yang tidak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini yaitu AKU sahabatmu”. Yah itulah, kata-kata gerutku jika mendapatkan cerita saat dia jatuh cinta dengan lelaki-lelaki lain di luar sana. Lelaki yang selalu berakhir dan membuat dia KECEWA.


    Sekarang aku hanya dapat sandarkan semua ini kepada Tuhan, baiknya untukku bagaimana dan untuknya. Saat ini aku hanya dapat berusaha dan berdoa, agar aku bisa mengikhlaskan semua kenyataan ini, dan aku terus kuat serta aku meminta pada Tuhan agar aku selalu ada untuknya. CINTA INI UNTUKMU.


     

  • Cinta Di Hari Kedua


    Ini cerita saat aku ikut panitia Ordik di Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Menjadi panitia Ordik adalah salah satu tugas yang paling menyenangkan. Tugas lain yang amat aku senangi adalah menjadi Panitia Pendamping Kelompok. Di tahun ajaran 2016/2017, kali ini aku diberi kesempatan menjadi bagian dari Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru perwakilan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Ilmu Komunikasi.

    Ordik merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan Perguruan Tinggi atau Universitas untuk menyambut mahasiswa-mahasiswi baru dengan tujuan memperkenalkan kepada mereka dinamika kampus, struktur organisasi, tata cara perkuliahan, dan akhir dari semua itu adalah sebagai wahana mengenal senior-senior mereka yang tak jarang sering congkak dan rawel-rawel. Acara pengenalan kampus ini, diselenggaran awal September selama tiga hari. Selama tiga hari itu, aku memaksakan diri bangun subuh untuk menyambut adik-adik yang sudah harus di pelataran pada jam enam pagi. Sesuatu yang tak jarang dari kebiasaanku karena aku seringkali bangun disaat matahari begitu terik.

     Hari kedua mahasiswa-mahasiswi ordik, seperti hari sebelumnya peserta maba harus tetap pada barisan kelompoknya masing-masing. Begitu pula dengan pendampingnya, masih seperti hari sebelumnya. Hari kedua kegiatan ini dilaksanakan telah memperjumpakan aku padanya yang berawal dari tugas mereka untuk menuliskan sebuah surat cinta buat kakak Panitia, salah satu peserta Ordik dari kelompok 25 dengan nama kelompok Giril Hawardhana “Makaria Marni” jurusan Teknolgi Industri Pertanian (TIP) yang berasal dari Kalimantan menuliskan sebuah surat cinta buatku, kata-katanya begitu romantis dan membuatku deg-degkan pada saat aku membaca surat itu darinya. Kelompok 25 Giril Hawardana didampingi oleh Nadia dan Nomasdedo (saya sendiri) “pembawa acara menyebutkan pendamping masing-masing kelompok”.
    Disaat itulah, aku menjadi terkagum dengan kata-katanya. Wanita ini memiliki aura yang melumpuhkan. Tatapan matanya itu mencengkram hatiku. Ahhh cinta kadang lebih gila dari hal yang paling gila sekalipun. Ia memiliki struktur wajah yang oval dengan air muka yang sangat menawan. Hidungnya sedikit mancung dari cewek kebanyakan. Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah junior itu, junior itu, serta detik-detik ketika cinta menyergapku tadi. Hukuman yang kejam hanya akan menambah sentimental suasana romantis di mana saya hampir saja menerobos lampu merah dan disenggak pengendara lain, ah semua itu membuatku merasa menjadi pahlawan cinta. Kesempatan menjadi Panitia Ordik tahun ini sedikit membuka harapanku untuk dapat mengenal mahasiswa-mahasiswi baru yang kumaksudkan tadi, hahaha. Tapi aku bukan termasuk tipe laki-laki yang kurang ajar. Aku pikir cerita-cerita lama yang mengatakan kalau Ordik bisa dijadikan ajang cari jodoh hanyalah teori belaka atau tepatnya humor saja. Tapi kali ini, aku benar-benar merasakannya.


    Posisiku sebagai panitia luntur berantakan, aku tak lagi menghiraukan itu. Jumpah pertama ini, membuat tanganku terasa dingin membeku seperti aku sedang mencengkram batangan-batangan es (lilin). Ah, indah sekali rupanya cinta itu. Saat itu, aku merasa jarum detik seluruh jam yang ada di dunia ini berhenti berdetak. Semua gerakan alam tersentak diam dipotret Tuhan dengan kamera raksasa dari langit, blitznya membutakan. Flash!!! Menyilaukan dan membekukan.
    Pertemuanku pertama kali dengan seorang peri, begitu aku menyebutnya hingga detik ini, adalah ketika hari kedua perkenalan kampus atau biasa disebut ordik. Ketika para Mahasiswa baru merasakan berbagai macam tekanan, terutama mental dari kakak-kakak panitia. Dari kejauhan kulihat sesosok manis yang begitu menyinari paras cantiknya. Tak jarang dia menebarkan senyuman dahsyat yang seakan menjadi senjata ampuhnya menaklukkan siapapun pria yang memandangnya.
    Dari kejauhan itu pula aku terus dan terus memandanginya dengan tiada habisnya. Dalam hatiku bertanya, siapa dia? Pandangan pertama yang berawal dari tugas mereka menuliskan sebuah surat cinta buat kakak panitia yang membuatku tersipu malu jika harus menatap senyumnya selalu. Tak sedikit pun aku berani mendekatinya, meskipun saat masih di SMA dulu aku terkenal mudah sekali dekat dengan wanita manapun, tapi kali ini terasa beda. Bergetar hati ini jika harus berada di dekatnya.

    Akhir dari sedikit cerita manis ini adalah aku mencarinya di hari terakhir Ordik pada saat acara penutupan. Tepatnya pada tanggal 7 September dimana aku bisa berkomunikasi langsung, aku utarakan perasaanku padanya bertatap muka dengan peri itu. Saraf-saraf motoriku seketika kaku, aku bagaikan beruang yang takut melihat merak dengan bulu indahnya. “…..” aku tak tahu apa yang dikatakannya saat itu padaku, aku hanya mencoba merasakan merdunya suara yang masuk ke dalam telinga dan langsung tancap gas menusuk hati kecilku. Gerakan tubuhku yang biasanya tak bisa diam, kata yang ceplas-ceplos, terpasung kaku tak bisa kukeluarkan. “ya” hanya itu yang dapat kuucapkan.
     
    Sungguh tak tau malunya diriku, untungnya dia memberi respon positif padaku. Sebenarnya aku telah lama mengagumi sosok anak perempuan itu. Badan yang mungil dengan rambut agak bergelombang, kulit yang agak hitam tapi manis apabila dia tersenyum, membuatku salah tingkah. Ketidak-populerannya membuat dia tak banyak dikenal orang, itu karena dia sosok yang pendiam. Disitulah aku mengucapkan apa yang aku rasakan pada hari kedua ketika dia menuliskan sebuah surat cinta buatku, dan akhirnya kami jadian pada malam penutupan Ordik. Kami saling bersuapan kue dan bermesraan ketika sudah jadian, saling suapin kue itu yang menandakan saling menyayangi dan saling mencitai. Itulah kisah cintaku. Aku tersenyum mengenang nostalgia kisah cinta di Kampus pada saat Ordik yang berawal dari tugas menuliskan sebuah surat cinta buat kakak panitia. Perempuan mungil manis yang telah lama kukagumi telah menjadi kekasihku. Kedekatan, semakin aku mengenalnya. Dia ternyata sosok perempuan baik hati, ramah, lembut dan begitu perhatian. Dia juga penyabar disaat aku sedang marah dia membujukku dan mengajakku ke tempat yang tak bisa kulupakan.

    Meskipun  selama kurang dari satu minggu aku pacaran dan jarang jalan berduaan dengannya dan sangat jarang bertemu, tapi perasaanku padanya melebihi segalahnya. Ia adalah sosok yang dapat menimbulkan perasaan sayang demikian kuat bagi orang-orang yang secara emosional terhubung denganya. Cinta kami sekalipun kaku dan jarang ada kejutan-kejutan, namun menyenangkan, itulah yang membuat amat terkesan. ***
     



  • Kartini Bukan Valentine

    Ada fenomena sosiokultural yang menarik, akhir-akhir ini anak-anak muda sibuk merayakan Hari Valentine (Valentine’s Day) ketika 14 Februari tiba. Bahkan, beberapa hari sebelumnya mereka mempersiapkan kartu ucapan selamat atau aneka bingkisan. Ketika Hari Valentine tiba, banyak SMS berisi ucapan selamat dan bingkisan cokelat yang “beterbangan” ke aneka jurusan. Mereka sangat antusias merayakannya.
    Bagaimana dengan Hari Kartini? Ketika 21 April tiba, biasanya tidaklah semeriah ketika mereka merayakan Hari Valentine. Lebih dari itu, bahkan banyak anak muda kita yang acuh tak acuh dengan Hari Kartini.

    Benar bahwa Presiden Soekarno pernah menandatangani keputusan Presiden Republik Indonesia No 108 Tahun 1964, tanggal 2  Mei 1974, yang menetapkan Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan nasional sekaligus menetapkan hari kelahiran Kartini, 21 April untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Meski begitu, perayaan Hari Kartini tidak semeriah Hari Valentine.

    Beda Orientasi
    Orientasi Hari Kartini dan Hari Valentine berbeda. Hari Kartini diambil dari hari kelahiran RA. Kartini di Jepara – Indonesia yang memperjuangkan terwujudnya emansipasi perempuan Indonesia. Pada sisi lain, Hari Valentine diambil dari hari dipenggalnya kepala St. Valentine atau Santo Valentinus di Roma, Romawi, yang melawan kebijakan Kaisar Claudius.

    Bahwa Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan bagi bangsanya, itu tidak perlu diragukan. Dalam buku Door Duisternis tot Licht (1911) yang dihimpun J. H. Abendanon yang merupakan kumpulan surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya dari Eropa serta dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran (1922) yang disusun Armijin Pane dkk, terlukis keinginan kuat Kartini untuk mengantarkan perempuan pribumi pada derajat yang sama dengan pria.

    Pada usia 12 menjelang 13 tahun, Kartini mulai dipingit orang tuanya. Dia baru saja selesai belajar di Europese Lagere School (ELS) dan ingin melanjutkan sekolah dokter di Belanda tetapi tidak diizinkan ayahnya. Dia pun belajar mandiri dan mengungkapkan keinginannya untuk membawa kemajuan bagi perempuan pribumi kepada sahabat-sahabatnya.

    Di rumah, dia membaca Koran, majalah, dan buku-buku bermutu. Koran De Locomotief dan majalah De Hollandsche Lelie merupakan menu bacaannya. Buku-buku berbahasa Belanda karangan Van Eedan, Augusta de Witt, Goeekoop de Jong Van Beek, dan sebagainya juga menjadi menu bacaannya. Buku Max Havelaar karya Multatuli, De Stille Kraacht karya Louis Coperus, serta roman Die Waffen Nieder karya Berta von Suttner bahkan dibacanya berkali-kali. Dari belajar mandiri itulah Kartini tumbuh menjadi perempuan cerdas yang cekatan dalam berkorespondensi.

    Ketika dinikahi Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat pada 12 November 1903, Kartini segera  mendirikan sekolah perempuan di kompleks kabupaten dan Kartini sendiri yang menjadi gurunya. Jadi, peringatan Hari Kartini lebih berorientasi pada emansipasi perempuan Indonesia.

    Valentine berbeda dengan Kartini. Kaisar Claudius membuat kebijakan tidak boleh ada perkawinan pria dengan perempuan karena mengakibatkan para pria enggan menjadi prajurit kerajaan untuk menundukkan Negara-negara sekitar. St. Valentine melawan kebijakan Kaisar Claudius dengan tetap mengawinkan pria dengan perempuan yang saling mencintai. Ketika kegiatan itu diketahui kerajaan, Valentine ditangkap dan pada 14 Februari 269 M kepalanya dipenggal. Seperempat abad kemudian, tepatnya 496 M, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai Hari Valentine. Jadi, perayaan Hari Valentine lebih berorientasi pada ekspresi kasih sayang antara pria dan perempuan.

    Kewajiban Pemerintah
    Mengapa pada era globalisai ini peringatan Hari Kartini semakin surut, tetapi perayaan Hari Valentine semakin meriah? Itulah permasalahan kita sekarang.

    Mengenai Valentine, jawabannya sederhana. Perayaan itu meriah karena kelalaian marketing orang Eropa dan AS dengan menciptakan mitos-mitos baru seolah-olah yang mereka rayakan adalah pesan St. Valentine. Anak muda Jepang yang dulu tidak mengenal Hari Valentine sekarang getol merayakannya. Lebih dari itu dalam merayakan, muncul tradisi baru yang disebut Girichoko, yakni kewajiban para perempuan memberikan hadiah cokelat kepada teman pria; seolah itu semua pesan St. Valentine.

    Masyarakat Taiwan dulu juga tidak mengenal Hari Valentine karena telah memiliki “Hari Raya Anak Perempuan” yang disebut Xi  Qi. Namun, kini banyak anak muda Taiwan yang lebih senang merayakan Hari Valentine daripada Hari Raya Anak Perempuan.

    Anak muda Indonesia pun cenderung demikian, lebih suka merayakan Hari Valentine daripada Hari Kartini. Merayakan Hari Valentine tentu tidak dilarang, tetapi jangan melupakan Hari Kartini.

    Kalau kita ingin masyarakat antusias memperingati Hari Kartini seperti beberapa tahun lalu, pemerintah wajib memperbaiki “marketing” Hari Kartini. Pemerintah harus mampu mengondisikan peringatan Hari Kartini sembari meyakinkan masyarakat akan pentingnya mengimplementasikan konsep emansipasi perempuan di tengah-tengah era globalisasi sekarang.


  • Copyright © - Nomasdedo - All Right Reserved

    NOMASDEDO - Designed by Nomasdedo